Friday, January 20, 2017

Laporan Pratikum Biologi acara 4; Morfologi akar, batang dan daun



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Batang merupakan bagian tubuh tanaman yang sangat penting. Tumbuhan biji belah (Dicotyledonae) pada umumnya mempunyai batang yang bagian bawahnya lebih besardan keujung semakin mengecil. Tumbuhan biji tunggal (Monocotyledonae) sebaliknya mempunyai batang yang dari pangkal sampai ke unjung boleh dikatakan tidak ada perbedaan sebernya. Akar ilah bagian pokok nomor tiga bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus. Kadang-kadang akar, batang atau daun mengalami pembekakan karena berfungsi sebagai tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan. Disamping itu dapat pula dijadikan alat perkembangbiakan.

1.2.      Tujuan
Adapun tujuan praktikum ini adalah :
1.    Mengenal akar, batang, dan daun serta bentuk modifikasinya,
2.    Mengenal bagian-bagian akar, batang, dan daun,
3.    Mendeskripsikan akar,
4.    Mendeskripsikan batang,
5.    Mendeskripsikan daun.


BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA
Ilmu tumbuhan pada waktu sekarang telah mengalami kemajuan yang demikian pesat, hingga bidang-bidang pengetahuan yang semula hanya merupakan cabang-cabang Ilmu tumbuhan saja, sekarang ini telah menjadi Ilmu yang berdiri sendiri-sendiri. Dari berbagai cabang ilmu tumbuhan yang sekarang berdiri sendiri adalah Morfologi Tubuhan. Morfologi tumbuhan yang mempelajari bentuk dan susunan tumbuhan pun sudah demikian pesat perkembangannya sehingga dipisahkan morfologi luar atau morfologi saja (morphology in sensu strict = dalam arti yang sempit) dan morfologi dalam atau anatomi tumbuhan. (Gembong, 1923)
Bagian tumbuhan yang pokok hanyalah tiga saja, yaitu: akar, batang dan daun, sedang bagian-bagian lain pada tumbuhan hanyalah penjelmaan salah satu di antara ketiga bagian pokok tersebut. ( Gembong,2009: 100).
Batang(Caulis) salah satu organ tubuh yang juga seperti akar terdapat pada tumbuhan yang tergolong Cormopyta, Bagian batang atau cabang tempat duduknya daun disebut buku-buku batang (nodus), dan bagian ini sering kali tampak sebagai bagian batang yang sedikit membesar dan melingkar batang sebagai suatu cincin. (Gembong, 2009:63-65). Daun dapat mengalami modifikasi membentuk piala, gelembung atau penangkap serangga lainnya yang berfungsi dalam absorbsi air dan nutrisi tambahan. Selain itu dapat membentuk duri untuk pertahanan diri atau sulur sebagai alat panjat. Kokot merupakan sulur yang keras, seperti duri. Akar juga dapat mengalami modifikasi membentuk akar napas atau akar lutut untuk mencukupi kebutuhan O2 akibat tempat tumbuhnya sering tergenang.(daerah mangrove). Alat tambahan berupa trikoma atau emergensia merupakan modifikasi epidermis dan jaringan di bawahnya. Duri trikoma letaknya tersebar tidak teratur dan mudah dilepas.( Ratna, 2007:19)


Laporan Pratikum Biologi; Acara 2. Sel Makhluk Hidup



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Mikroskop pada prinsipnya terdiri dari dua lensa cembung yaitu sebagai lensa objektif (dekat dengan mata) dan lensa okuler (dekat dengan benda). Baik objektif maupun okuler dirancang untuk perbesaran yang berbeda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda berputar, yang disebut gagang putar.
Semua makhluk hidup tersusun atas sel. Istilah sel dalam bahasa Yunani : kytos = sel , bahasa Latin : Cella = Ruang kosong. Pertama kali digunakan oleh Robert Hooke (1635-1703) pada waktu mengamati irisan gabus dengan menggunakan mikroskop, ia melihat irisan tersebut terdiri atas ruang-ruang kecil yang berbentuk seperti kotak.Sel adalah segumpal protoplasma yang berinti, sebagai individu yang berfungsi menyelenggarakan seluruh aktivitas untuk kebutuhan hidupnya. Sel itu setelah tumbuh dan berdeferensiasi, akan berubah bentuknya sesuai dengan fungsinya, ada yang menjadi epidermis berfungsi untuk melindungi sel-sel sebelah dalamnya ada yang menjadi tempat penyediaan makanan, ada yang berfungsi menjadi tempat persediaan makanan dan lain-lain. (Yekti, 1994 : 17)

1.2.      Tujuan
Adapun tujuan praktikum ini adalah :
Mengamati srtuktur sel tumbuhan dan sel hewan.

BAB II
TINJAUAN  PUSTAKA
Mikroskop majemuk dng dua lensa sudah ditemukan pada akhir abad ke-16 serta setelah itu dikembangkan di belanda, italia, serta inggris. Sampai pertengahan abad ke-17 mikroskop telah mempunyai kekuatan perbesaran citra hingga 30 kali. Ilmuwan inggris robert hooke lantas merancang mikroskop majemuk yg mempunyai sumber sinar sendiri hingga lebih gampang dipakai. Ia mengamati irisan-irisan tidak tebal gabus melewati mikroskop serta menjabarkan susunan mikroskopik gabus sebagai berpori-pori layaknya sarang lebah namun pori-porinya tak teratur didalam makalah yg diterbitkan pada th. 1665. Hooke menyebut pori-pori itu cells dikarenakan serupa dng sel ( bilik kecil ) didalam biara atau penjara. Yg sesungguhnya dipandang oleh hooke yaitu dinding sel kosong yg melingkupi beberapa sel mati pada gabus yg datang dari kulit pohon ek. Ia juga mengamati bahwa didalam tumbuhan hijau ada sel yg diisi cairan.
Pada saat yg sama di belanda, antony van leeuwenhoek, seorang pedagang kain, menciptakan mikroskopnya sendiri yg berlensa satu serta memakainya utk mengamati beragam hal. Ia sukses lihat sel darah merah, spermatozoid, khamir bersel tunggal, protozoa, serta apalagi bakteri. Pada th. 1673 ia mulai kirim surat yg memerinci kegiatannya pada royal society, perkumpulan ilmiah inggris, yg lantas menerbitkannya. Pada di antara suratnya, leeuwenhoek melukiskan suatu hal yg bergerak-gerak didalam air liur yg dilihatnya dibawah mikroskop. Ia menyebutnya diertjen atau dierken ( bhs belanda : hewan kecil, diterjemahkan sebagai animalcule didalam bhs inggris oleh royal society ), yg sebagai bakteri oleh ilmuwan moderen.
Pada th. 1675–1679, ilmuwan italia marcello malpighi menjabarkan unit penyusun tumbuhan yg ia sebut utricle ( kantong kecil ). Menurut pengamatannya, tiap-tiap rongga tersebut diisi cairan serta dikelilingi oleh dinding yg kokoh. Nehemiah grew dari inggris juga menjabarkan sel tumbuhan didalam catatannya yg diterbitkan pada th. 1682, serta ia sukses mengamati banyak susunan hijau kecil didalam beberapa sel daun tumbuhan, yakni kloroplas.
BAB  III
METODELOGI

3.1.    Waktu dan tempat
Mata kuliah
Kelas
Hari/ waktu
Ruang
:
 :
:
:
Biologi
A2
Senin, dari jam 14:00- 16:00 WIB
Fistum Lantai II

3.2.    Alat- alat dan Bahan Pratikum

1.             gambus Ubi
2.             bawang Merah
3.             tusuk Gigi Tumpul
4.             metilen Biru
5.             Kertas Saring
6.             Hydrilla
7.             Sel Epitel rongga mulut
8.             Mikroskop
9.             Pinset
10.         Pipet tetes
11.         Gelas Piala
12.         Silet
13.         Gelas Benda dan Gelas Penutup
14.         Larutan Janus green
15.         Alcohol 70%
16.         Kapas


3.3.    Metode kerja
Sediaan 01. Sel Gabus Empulur Batang Singkong.
Cara kerja:
1.             Buat irisan melintang dan membujur gabus ubi setipis mengkin,
2.             Letakkan diatas gelas benda yang telah ditetesi air, kemudian tutup dengan gelas penutup,
3.             Amati dengan mikroskop, dimulai dengan perbesaran lemah (10 x 10) dan dilanjutkan dengan perbesaran kuat,
4.             Untuk lebih jelas tetesi dengan metilen biru pada salah satu gelas penutup. Pada ujung yang lain diletakkan kertas saring sehingga kelebihan air dapat dihisap,
5.             Gambarlah yang saudara amati. Sebutkan bagian-bagiannya.

Sedian 02. Sel epidermis umbi lapis Bawang merah.
Cara kerja:
1.             Kelupaslah epidermis salah satu lapisan umbi bawang merah dengan pinset,
2.             Letakkan diatas gelas benda yang telah ditetesi air. Tutup dengan gelas penutup,
3.             Amati dengan mikroskop, kemudian tetesi dengan metilen biru.
4.             Gambar dan beri keterangan.
Sediaan 03. Sel daun Hydrilla verticillata.
Cara kerja:
1.             Ambil 2 atau 3 daun Hydrilla verticillat dan letakkan pada gelas objek dan tetesi dengan air. Kemudian tutup dengan gelas penutup,
2.             Amati dengan mikroskop dan perhatikan aliran sitoplasma pada setiap sel,
3.             Gambar 2 atau 3 sel dan beri keterangan bagian-bagian sel yang tampak. Nyatakan aliran sitoplasma dengan tanda panah.
Sediaan 04. Sel epitel rongga mulut.
Cara kerja:
1.             Bersikan tangkai scalpel atau tusuk gigi dengan alcohol 70%,
2.             Koreklah permukaan dalam pipi anda dengan scalpel atau dengan tusuk gigi,
3.             Oleskan goresan tadi pada gelas objek, kemudian tetesi dengan green B atau pada aquadest, kemudian tutup dengan gelas penutup,
4.             Amati di bawah mikroskop, mulai dengan perbesaran lemah,
5.             Dengan perbesaran kuat (400x), gambarlah 2 atau 3 sel dan beri keterangan pada bagian-bagiannya.



Saturday, January 7, 2017

Laporan Pratikum Pengendalian Hama Penyakit Terpadu-PHPT; ACARA I Pengaruh Tanah Terhadap Perkembangan Hama dan Penyakit Tanaman Kacang Tanah



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Sumber pertama hama dan patogen terdapat di tanah yang akan digunakan sebagai medeia tanam. Hama yang terdapat ditanah berupa telur,larva,pupa,dan imago. Patogen yang terdapat di tanah inokkulum jamur berupa sepora seksual (basidiospora,akospora zigospora dan oospora) atau sepora seksual (konidum, seporagium, klamidospora, oidiospora, dll) hifa misolium, dan tubuh buah jamur yang terdapat didalam tanah atau sisa jaringan tanaman di dalam tanah. Inokulum bakteri dapat berupa sel-sel bakteri yang terdapat di dalam tanah atau sisa jaringan tanaman didalam tanah (Bustamam, 2016).
Konsep utama dalam pengendalian terpadu, petani harus memilih lahan yang sehat. Jika lahan teronfeksi harus diberi perlakuan agar populasi awal hama atau patogen berada dalam kondisi rendah atau tidak ada sama sekali. Usaha penurunan populasi hama dan patogen di tanah dapat dilakukan dengan berbagai metoda perlakuan yaitu secara mekanik, fisik, kimia dan biologi.
Perlakuan secara mekanik dapat dilakukan dengan memungut, membuang, atau memusnakan hama dan inokulum yang ada didalam tanah. Perlakuan secara fisik dapat dilakukan dengan cara penggenangan , solarisasi dan penggunaan uap air panas. Pelakuan secar kimia dapat dilakukan dengan cara fumigasi, penyiraman dengan pestisida, dan penggunaan pestisida nabati. Perlakuan secara biologi dapat dilakukan dengan cara penanaman perangkap, penggunaan musuh alami hama, dan penggunaan agensia hayati.
Abawi & Widmer (2000) menjelaskan bahwa Tanah merupakan benda alam yang bersifat dinamis, sumber kehidupan dan merupakan fungsi vital dari ekosistem darat yang menggambarkan keseimbanganyang unik antara faktor fisik, kimia dan biologi.Komponen utama tanah terdiri darimineral anorganik, pasir, lumpur, tanah liat, bahan-bahan organik hasil dekomposisidari biota tanah, dan mikroorganisme seperti cacing tanah, serangga, bakteri, fungi,alga, nematoda dan sebagainya.
Tehnik solarisasi penggunaan sinar matahari dapat membunuh sebagian populasi awal hama dan patogen didalam tanah dengan cara membalik tanah bagian bawah kepermukaan sehingga hama dan oatogen yang ada didedah oleh sinar matahari. Pengendalian hama penyakit kacang tanah dapat diterapkan dalam model perlakuan tanah untuk model pengendaliannya. Sumber hama dan nokulum dalam tan penting untuk prtanaman kacang tanah yang penting dikendalikan adalah hama lalat bibit penyakitlayu Seclorotium dan bercak coklat (Semangun, 2005). Solarisasi tanah adalah suatu metode pasteurisasi yang efektif untuk menekan banyak spesies nematoda.Tetapi metode ini efektif bila cukup cahaya matahari pada musim panas.Tanah diberi plastik transparan selama 6-8 minggu. Panas matahari akan diperangkap oleh plastik, sehingga menaikkan temperature tanah (Agrios, 1997).
Inkerton (2000) melaporkan, perlakuan dengan solarisasi tanah, solaraisasi tanah dan tanaman penutup tanah serta fumigasi dengan metam sodium menghasilkan penurunan kepadatan populasi Phytophthora cinnamoni dan Verticillium dahliae pada kedalamam tanah 5 dan 10 cm. Kepadatan populasi P.penetraans menurun pada kedalaman di atas 30 cm dari permukaan tanah dengan solarisasi. Solarisasi untuk 8 minggu selama musim panas dapat dijadikan alternative pengelolaan beberapa patogen tular tanah yang penting di Western Oregon.
Perlakuan panas lebih efektif di tanah lembab daripada di tanah kering, karena terjadi peningkatan konduktivitas thermal dan aktivitas metabolik dari organisme target. James & Charles (2000) melaporkan, bahwa terjadi penurunan populasi kista, telur dan larva H. cajani yang lebih besar setelah perlakuan solarisasi pada tanah yang beririgasi dari pada tanah kering. Lebih jauh James & Charles (2000) dalam Jaacov & James (2000) menjelaskan, pengendalian nematoda memperoleh hasil yang sangat baik bila solarisasi di kombinasikan dengan nematisida dosis rendah, seperti metil bromoda, etilen dibromida, 1,3-dikloropropen dan etoprop.
Kacang tanah adalah salah satu tanaman ekonomi yang mengandung lemak dan protein dan mampu tumbuh dilahan kering. Meskipun demikian, pertumbuhan dan produksinya tergantung pada tersedianya air. Pada lahan kering, ketersediaan air sangat tergantung pada hujan. Tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea, L.) merupakan tanaman yang berasal dari benua Amerika, khususnya dari daerah Brazilia (Amerika Selatan). Awalnya kacang tanah dibawa dan disebarkan ke benua Eropa, kemudian menyebar ke benua Asia sampai ke Indonesia (Hidayah, 1996).
Di dalam tanah terdapat berbagai jenis biota tanah, antara lain mikroba (bakteri, fungi, aktinomisetes, mikroflora, dan protozoa) serta fauna tanah. Masing-ma-sing biota tanah mempunyai fungsi yang khusus. Fusarium sp. Merupakan fungi yang bersifat saprofit tanah tetapi dapat bersifat patogen terhadap banyak tumbuhan. Fungi ini juga dapat menyebabkan pembusukan pada akar tanaman dan juga berperan pada proses dekomposisi (Utomo, 2000).


1.2         Tujuan
Pratikum ini bertujuan untuk :
1.      Meningkatkan keterampilan maha siswa untuk menurunkan populasi awal hama dan patogen di tanah.
2.      Membadingkan tehnik perlakuan tanah untuk menurunkan populasi awal hama dan patogen di tanah.


BAB II
METODELOGI

Praktikum PHPT dilaksakan dilahan sawah depan laboratorium agronomi, Universitas Bengkulu.
1.1.       Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 100 g benih kacang tanah, dengan la han praktikum berupa bedengan ukuran 5x1m2, 15 g pupuk kandang, 100 g pupuk urea, 50 g pupuk kcl, 50 SP36 dan 1m2 plastik hitam perak. Sementara alat yang diperlukan adalah cangkul,meteran,ajir,tali plastik, cangkul.

1.2.       Metodelogi
1.              Memberisikan lahan dari gulma, dengan mencakul, dan membuat 3 bedengan berukuran panjang  5 m x lebar 1m, dan tinggi dengan 20 cm. Jarak antar bedengan adalah 60 cm. Dan masing-masing bedengan diberikan label dengan pengajiran.
2.              Lahan diberi perlakuan sebagai berikut :
a.              Perlakuan 1. Solerasi 1 x. Bedengan tersebut di jemur selama 6 hari. Selanjutnya bedengan di beri pupuk kandang 2 kg dengan cara taburan.
b.              Perlakuan 3. Solerasi 2 x. Tanah di balik pada hari ke tiga, kemudian di solerasi selam 2 hari, kemudian diberi pupuk kandang sebanyak 2 kg dengan cara tabuaran.
c.              Perlakuan ke 4. Solerasi 3 x. Tanah di balik pada hari ke tiga, kemudian di solerasi selam 2 hari, kemudian diberi pupuk kandang sebanyak 2 kg dengan cara tabuaran.
3.             pada minggu ke tiga dilakukan penanaman dengan cara :
a.              Membuat lubang tanamdengan tunggal sedalam 10 cm dengan jarak tanam 25 x 25 cm.
b.              Benih dimasukkan sebanyak 2 buah kacang tanah kesetiap lubang tanam.
c.              Kemudian lubang tanah tersebut di tutupi dengan tanah.
4.             Panaman di pelihara dengan mencabut gulma secara manual pada minggu ke 2 setelah tanam.
5.       Pengamatan dilakukan terhadap :
a.              Jumlah yang tumbuh pada hari ke 6 dan 13 setelah tanam. Jumlah tanaman yang tumbuh pada setiap bedengan dan di bandingkan dengan jumlah tanaman ( prensentase tanaman yang tumbuh dalam satuan)
b.              Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang sampai ujung daun dengan menggunakan mistar ( satuan cm). Pada masing –masing bedengan jumlah sampel yang di ukur adalah 5 tanaman, kemudian di rata-ratakan.
c.              Jumlah lalat yang terseang lalat bibit. Dihitung dengan mengamati dengan jumlah tanaman yang memiliki gejala serangan lalat bibit dan dibandingkan dengan jumlah tanaman yang ditanaman. Pengamatan dilakukan pada hari ke 4-10.
d.             Jumlah tanaman ang terserang layu Slecrotium. Dihing dengan mengamati jumlah tanaman yang memiliki gejala layu dan di bandingan dengan dengan julah tanaman yang tumbuh. Pengamatan dilakukan setiap minggu.
e.              Jumlah tanaman yang terserang tanaman bercak coklat. Dihitung dengan jumlah tanaman yang terserang bercak coklat dibandingkan dengan jumlah tanaman yang tumbuh. Pengamatan dilakukan pada minggu ke 8 – 12.


LAPORAN PRAKTIKUM KONSERVASI TANAH DAN AIR: ACARA II PENGUKURAN KELERENGAN PADA TIPE LAND USE

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Topografi adalah bentuk permukaan tanah dilihat dari kemiringan lereng dan beda tinggi. Topografi berpengaruh terhadap aliran air dipermukaan tanah (runoff) dan erosi. Kemiringan lereng adalah unsur topografi, makin mereng lereng mamin besar laju runoff makin besar erosi. Jika kemiringn lereng meningkt 2 kali maka erosi meningkat 2-2,5 kali (Arsyad, 2000). Unsur topografi lainnya panjang kereng. Pengaruh panjang lereng ditentukan juga oleh intensitas hujan. Erosi meningkat dengan meningkatnya panjang lereng untuk intensitas hujan tinggi, jik intensitas hujan rendah erosi menurun (Baver, 1956). Jika runoff terjadi disepanjang lereng, laju runoff pada lereng bagian bawah makin besar, akibatnya akumousi runoff makin besar.
Kartasapoetra (1986) mengatakan Kemiringan lereng mempengaruhi erosi melalui runoff.  Kemiringan lereng (slope) merupakan suatu unsur topografi dan faktor erosi.  Kemiringan lereng terjadi akibat perubahan permukaan bumi diberbagai tempat yang disebabkan oleh gaya-gaya eksogen dan endogen yang terjadi sehingga mengakibatkan perbedaan letak ketinggian titik-titik di atas permukaan bumi.
Kemiringan lereng menunjukan besarnya sudut lereng dalam persen atau derajat.  Dua titik yang berjarak horizontal 100 meter yang mempunyai selisih tinggi 10 meter membentuk lereng 10 %.  Kecuraman lereng 100% sama dengan kecuraman 45 derajat.  Selain dari memperbesar jumlah aliran permukaan, semakin curamnya lereng juga memperbesar energi angkut air.  Jika kemiringan lereng semakin besar, maka jumlah butir-butir tanah yang terpercik ke bawah oleh tumbukan butir hujan akan semakin banyak.  Hal ini disebabkan gaya berat yang semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah dari bidang horizontal, sehingga lapisan tanah atas yang tererosi akan semakin banyak.  Jika lereng permukaan tanah menjadi dua kali lebih curam, maka banyaknya erosi per satuan luas menjadi 2,0-2,5 kali lebih banyak (Arsyad, 2000).
Wiradisastra (1999) melaporkan bahwa lereng mempengaruhi erosi dalam hubungannya dengan kecuraman dan panjang lereng. Lahan dengan kemiringan lereng yang curam (30-45%) memiliki pengaruh gaya berat (gravity) yang lebih besar dibandingkan lahan dengan kemiringan lereng agak curam (15-30%) dan landai (8-15%). Hal ini disebabkan gaya berat semakin besar sejalan dengan semakin miringnya permukaan tanah dari bidang horizontal.  Gaya berat ini merupakan persyaratan mutlak terjadinya proses pengikisan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation).
Kondisi lereng yang semakin curam mengakibatkan pengaruh gaya berat dalam memindahkan bahan-bahan yang terlepas meninggalkan lereng semakin besar pula.  Jika proses tersebut terjadi pada kemiringan lereng lebih dari 8%, maka aliran permukaan akan semakin meningkat dalam jumlah dan kecepatan seiring dengan semakin curamnya lereng.  Berdasarkan hal tersebut, diduga penurunan sifat fisik tanah akan lebih besar terjadi pada lereng 30-45%.  Hal ini disebabkan pada daerah yang berlereng curam (30-45%) terjadi erosi terus menerus sehingga tanah-tanahnya bersolum dangkal, kandungan bahan organik rendah, tingkat kepadatan tanah yang tinggi, serta porositas tanah yang rendah dibandingkan dengan tanah-tanah di daerah datar yang air tanahnya dalam.  Perbedaan lereng juga menyebabkan perbedaan banyaknya air tersedia bagi tumbuh-tumbuhan sehingga mempengaruhi pertumbuhan vegetasi di tempat tersebut (Hardjowigeno, 1993).
Land use adalah kelompok tumbuhan/ tanaman yang tumbuh pada suatu lahan menurut status peruntukan pada lahan. Termasuk tipe land use: kebun, ladang, padang rumput, hujan, semak belukar, lahan terbuka, dll. Vegetasi adalah kelompok tumbuhan / tanaman yang tumbuh pada suatu lahan menurut karakteristiknya menutup permukaan tanah. Termasuk tipe vegetasi: lahan terbuka, padang alang-alang, padang rumput, semak belukar, hutan, kebun sayur, kebun sawit, karet,dll. Land use atau vegetasi merupakan faktor erosi. Dari segi erosi, peran faktor ini sama.
Pengaruh vegetasi terhadap erosi: 1) intensepsi air pada tajuk,2) melindungi tanah dari pukulan air hujan, 3) mengurangi laju dan kekuatan runoff, 4) akar tanaman meningkatkan poroositas tanah, 5) memberi mulsa dan bahan organik pada tanah. Pengaruh vegetasi juga tergantung pada pase budidaya tanaman seperti fase persiapan lahan, fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan vegetatif maksimal, msa panen dn masa bera. Efektifitas vegetasi dipengarui jug oleh tipe tajuk seperti: daun lebar, daun sempit, tumbuhan tegak, mermbat, persen komunitas tanam.
1.2         Tujuan
Pratikum ini bertujuan untuk :
1.             Mengukur panjang lereng dan kemiringan lereng pada tipe land use, mengamati dan mencatat data lingkungan sekitar
2.             Mengambil sampel tanah dengan ring sampel (andisturb sample) dn sampel tanah terganggu (disturb sample)
3.             Sebagai persiapan data dalam acara 3.



BAB II
METODELOGI

Praktikum ini dilaksanakan pada hari jumat, jam 08.00 wib sampai dengan selesai di laboratorium ilmu tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu.
2.1.       Bahan dan Alat
Cangkul, klinometer, meter gulung, mistar, ring sample, kantong plastik, karet, pisau lapangan, alat tulis.
2.2.       Metodelogi
1.             Mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok atau pershif
2.             Masing-masing kelompok mengmbil data pada tife land use, seperti: mengukur persen kemiringan lereng, pnjang lereng, mengambil contoh tnah dengn ring sampel dan contoh tanah biasa.
3.             Mengamati lingkungan sekitar, seperti: usaha konservasi, topogrfi, perkiran persen rumput menutupi permukaan tanah.



Disqus Shortname

Comments system